REKAMAN wawancara lama mendiang Virginia Giuffre, korban perdagangan seks oleh Jeffrey Eipstein, Ghislaine Maxwell, dan melibatkan Pangeran Andrew kembali dibuka oleh BBC pada Selasa, 4 November 2025. Media itu sebelumnya mewawancarai Giuffre pada 2019 yang membahas pengakuannya sebagai perdagangan seks yang melibatkan Jeffrey Epstein dan sosialita asal Inggris, Ghislaine Maxwell.
Dalam rekaman yang diulas The Independent, Giuffre mengatakan bahwa Maxwell adalah sosok yang lebih brutal dibanding Epstein. “Dia lebih menyiksa secara fisik dalam beberapa hal. Ia merasa senang saat melihat kami menderita,” kata Giuffre. Ia menggambarkan Maxwell bukan hanya pelaku untuk membantu kejahatan Jeffrey Epstein, tetapi juga orang yang aktif mengatur dan mengendalikan para korban muda.
Maxwell kini menjalani hukuman penjara 20 tahun setelah dinyatakan bersalah dalam kasus perdagangan seks pada 2021. Namun, pengakuan Giuffre dalam wawancara lama itu membuka kembali perdebatan publik tentang peran Maxwell dan besarnya dampak relasi Epstein di kalangan elit. Wawancara ini juga muncul di tengah sorotan mengarah pada Pangeran Andrew, yang baru saja dilepas atribut kehormatannya sebagai keluarga kerajaan Inggris karena berkaitan dengan Epstein.
Tantangan Terbuka untuk Pangeran Andrew
Dalam artikel yang diterbitkan US Magazine, Giuffre__meninggal pada 25 April 2025__ menekankan tahu persis apa yang terjadi. “Hanya satu dari kami yang berbicara dengan jujur,” ujarnya, merespons bantahan Andrew, yang kini tidak lagi menyandang sebutan pangeran, atas tuduhan bahwa ia pernah berhubungan dengannya saat Giuffre masih di bawah umur.
Giuffre mengungkapkan, Ghislaine Maxwell memintanya agar “berhubungan dengan Andrew seperti apa yang saya lakukan untuk Jeffrey.” Ia menggambarkan dirinya seolah-olah “mainan yang dipakai dan dilempar-lempar” oleh jaringan itu. Pernyataan tersebut semakin memperkuat dugaan bahwa terdapat eksploitasi terhadap korban dilakukan secara terencana, terstruktur, dan melibatkan figur-figur berpengaruh.
Foto yang menunjukkan Pangeran Andrew memeluk Giuffre juga kembali menjadi bahan perbincangan. Andrew mengklaim foto itu palsu, namun Giuffre berkeras asli.
Wawancara yang baru dirilis ini bukan hanya mengangkat kembali luka lama, tetapi juga menggambarkan bagaimana kekuasaan dan pengaruh sosial dapat menutupi tindak eksploitasi. Giuffre mengatakan, ia berbicara bukan hanya untuk dirinya, tetapi untuk semua korban yang belum sempat bersuara.


