PERINGATAN Hari Pahlawan di Kota Yogyakarta diwarnai pemutaran perdana film karya sinematik revolusioner berjudul Diponegoro Hero: 200 Tahun Perang Jawa di auditorium Taman Budaya Embung Giwangan, Senin 10 November 2025. Pantauan Tempo, ratusan pelajar hingga guru turut memadati penayangan film yang seluruh proses produksinya memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) itu.
Produser film itu, King Bagus menuturkan, proyek film ini merupakan eksperimen kreatif untuk menggabungkan teknologi dan sejarah. “Kami ingin menunjukkan bahwa AI bukan ancaman, melainkan alat untuk melestarikan nilai-nilai kepahlawanan dan memperkenalkan kisah perjuangan Pangeran Diponegoro kepada dunia dengan cara baru,” ungkapnya.
Film ini, kata Bagus, sebenarnya telah tayang perdana pada 14 Agustus 2025 lalu di Jakarta dalam menyambut Hari Kemerdekaan.
Teknologi yang Digunakan
Film berdurasi 35 menit yang bercerita tentang perang Pangeran Diponegoro melawan kolonial Belanda pada abad ke-19 itu, baru dibuat bulan Juli, atau saat mulai ada AI tools global yang bisa membuat wajah dengan karakter Indonesia. “Kalau film ini dibuat lebih awal, sebelum Juli itu adanya (AI tools) wajahnya masih Indo Cina- Vietnam,” kata dia.
Bagus pun mengaku sempat merasa tak yakin melanjutkan proyek itu karena minimnya data wajah orang Indonesia dalam database AI global. “Saya merasa bakal di-bully karena sebelumnya tidak ada data AI untuk membuat wajah Indonesia. Tapi setelah April, teknologi Face ID (fitur replikasi wajah) dirilis, wajah karakter Indonesia bisa direplikasi dengan akurat oleh AI,” ujar Bagus.
Dalam sesi diskusi bersama audiens, Bagus menuturkan meski teknologi AI dinilai makin memudahkan seseorang berkarya seperti membuat film, namun prosesnya tak gampang. Butuh riset dan juga diskusi dengan berbagai pihak agar narasi yang dibangun tak hanya dari satu sumber.
Proses Riset
Menurutnya cerita Diponegoro menarik. Sebab Perang Tanah Jawa yang relatif singkat antara 1925-1930 itu, dinilai sukses membuat Belanda kolaps baik dari finansial maupun sumber daya manusia.
Untuk meningkatlan keakurasian data yang diangkat, Bagus pun banyak berdiskusi dengan Paguyuban Trah Pangeran Diponegoro. Selain menggunakan data primer seperti catatan Babad Diponegoro, Babad Ngayogyakarta, hingga arsip Belanda.
Bagus bersyukur film ini akhirnya bisa selesai dan menjadi film AI perdana tentang kisah kepahlawanan nasional di kawasan Asia Tenggara. Selama proses pembuatan film itu, ia mengaku hanya menghabiskan anggaran Rp 40 juta.
Ikut Festival Film Internasional Dubai
Film Diponegoro Hero sendiri menjadi salah satu karya sinema berbasis kecerdasan buatan pertama asal Indonesia yang akan diikutsertakan dalam kompetisi Festival Film Internasional Dubai 2026 mendatang.
Penggunaan teknologi AI mulai dari penulisan naskah, visualisasi karakter, hingga sinematografi. Semuanya itu dikerjakan hanya dalam waktu satu bulan.
Direktur Film, Musik, Seni Kementerian Kebudayaan Syaifullah Agam yang turut menghadiri pemutaran film itu mengatakan perkembangan teknologi untuk berkarya sudah tidak bisa dibendung. “Proses AI hanya membantu mewujudkan dengan cara yang lebih mudah dan murah, kalau film seperti ini dibuat benar (seperti produksi film sesungguhnya), habis berapa banyak biayanya,” kata dia.
Ia menuturkan, kreator film bisa melihat AI sebagai teknologi yang membuat sesuatu yang tadinya rumit menjadi lebih mudah. Bukan untuk mematikan kreatifitas. “Proses kreativitas tetap pada diri kita sendiri, itu yang membuat karya itu berbeda dengan lainnya,” kata dia.


